.post img:hover { -moz-trnasform: scale(1.3) ; -webkit-transform: scale(1.3); -o-transform: scale(1.3) ; -ms-transform: scale(1.2) ; transform: scale(1.3) ;}

BUDIDAYA LIDAH BUAYA

16:41 |




Lidah Buaya yang biasa kita tanam begitu saja di halam rumah, ternyata punya prospek bisnis yang sangat menguntungkan.  Lidah buaya alias Aloevera itu merupakan salah satu komoditas pertanian paling laris di dunia dan paling banyak permintaannya. Lidah buaya telah dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri makanan dan minuman kesehatan di berbagai negara, dan di Indonesia juga sudah banyak industri yang  mengembangkan hal tersebut.
http://2.bp.blogspot.com/-RlXRVqBRSZA/Udpua0aBuFI/AAAAAAAABuw/EUAfvLc5VNE/s1600/lidah+buaya.jpeg
Aloe vera/lidah buaya mengandung semua jenis vitamin kecuali vitamin D, mineral yang diperlukan untuk fungsi enzim, saponin yang berfungsi sebagai anti mikroba dan 20 dari 22 jenis asam amino. Dalam penggunaannya untuk perawatan kulit, Aloe vera dapat menghilangkan jerawat, melembabkan kulit, detoksifikasi kulit, penghapusan bekas luka dan tanda, mengurangi peradangan serta perbaikan dan peremajaan kulit. Dengan beragam manfaat yang terkandung dalam lidah buaya, pemanfaatannya kurang optimal oleh masyarakat yang hanya memanfaatkannya sebagai penyubur rambut.
Negara kita yang beriklim tropis merupakan lingkungan yang sangat sesuai untuk pertumbuhan lidah buaya .
Tanaman lidah buaya meskipun bukan merupakan tanaman asli Indonesiaternyata dapat tumbuh baik di negara kita, bahkan di Propinsi KalimantanBarat, khususnya di Kota Pontianak, tanaman ini beradaptasi jauh lebih baikdaripada di tempat tempat lainnya. Hal ini diakui oleh pakar lidah buaya mancanegara yang karenanya juga turut menyayangkan bilamanakeunggulan komparatif yang dimiliki oleh tanaman ini tidak dimanfaatkan oleh Indonesia.
Ada beberapa jenis tanaman lidah buaya yang memiliki nilai komersial yang tinggi :
1.      Aloe vera barbandensis dari Amerika,
2.      Aloe ferox dari Afrika yang punya bunga warna merah cantik
3.      Aloe sinensis dari Asia (Cina). Aloe vera barbandensis adalah yang terbaik untuk dibudidayakan karena lebih tahan terhadap hama dan penyakit, ukurannya jauh lebih besar dibanding jenis lainnya. 

Cara bercocok tanam

http://budidayalidahbuaya1.files.wordpress.com/2012/04/cara-bercocok-tanam1.jpg?w=300&h=224
Tanaman lidah buaya berbatang pendek dan tersembunyi dalam tanah. Pada bagian batang inilah muncul anakan yang bergerombol mengelilingi tanaman induk. Anakan ini dapat digunakan sebagai bibit dengan cara memisahkan induknya. Anakan yang layak dijadikan bibit berukuran kira-kira sebesar ibu jari, dengan panjang antara 10 cm – 20 cm. Tiap batang induk dapat menghasilkan 5 – 8 batang yang berada di sekeliling tanaman. Untuk penanaman dalam jumlah banyak, perlu dilakukan penyiapan kebun bibit yang khusus menghasilkan bibit.
Tanaman induk penghasil bibit ini dipelihara secara khusus pada bedengan atau pot-pot agar menghasilkan anakan lebih banyak. Apabila sudah muncul anakan sebesar ibu jari dapat segera dipotong untuk dipindahkan pada tempat khusus, berupa bedengan pesemaian maupun polybag. Pendederan (pembibitan) ini dilakukan sampai akar tanaman kuat untuk dipindahkan ke lapangan. Lama pendederan bisa mencapai 3 – 4 minggu.
Untuk mendapatkan bibit yang seragam, subur, dan sehat maka anakan harus dipelihara secara khusus, mulai dari penyiraman secara teratur, penyediaan tanah pesemian yang subur, pemupukan secara periodik, serta pengendalian hama dan penyakit secara tepat, agar bibit tidak menjadi penular hama dan penyakit. Tanah pendederan dapat dicampur dengan pupuk kandang atau kompos agar lebih subur dan gembur. Bedengan yang bertanah gembur akan memudahkan pencabutan bibit.
Batang lidah buaya juga dapat disetek untuk perbanyakan. Namun karena berbatang pendek, sulit menjadikannya dalam jumlah banyak. Peremajaan tanaman dilakukan dengan memangkas batang lidah buaya, rata dengan tanah, untuk merangsang pertumbuhan anakan baru yang akan muncul disekitar batang. Selanjutnya, anakan dijadikan tanaman baru atau dipindahkan.
Sebelum ditanam, anakan ini ditanam dalam polybag kecil agar akarnya tumbuh banyak dan siap dipindahkan ke lapangan. Setiap polybag cukup di tanami 1 batang anakan sebesar ibu jari. Caranya, padatkan tanah di sekitar polybag agar akar atau bakal akar dapat langsung mengenai tanah.
Tanah untuk pembibitan harus gembur. Oleh karena itu, tanah dapat dicampur dengan pupuk kandang atau pupuk kompos yang bebas cendawa.

JARAK TANAM
Tanaman lidah buaya tidak mempunyai tajuk yang rimbun, sehingga penanamannya dapat menggunakan jarak tanam yang rapat. Jarak tanam yang sering digunakan adalah jarak tanam baris tunggal, yang memudahkan pemeliharaan dan pemanenan.
Jarak tanam yang digunakan secara secara baris tunggal adalah 50 cm x 75 cm, 50 cm x 100 cm. Untuk bedengan lebar dapat digunakan jarak tanam 60 cm x 50 cm, atau seperti gambar berikut. Pengukuran jarak tanam yang baik akan memudahkan pemeliharaan selanjutnya, karena tanaman lidah buaya ini akan dipelihara dalam waktu yang lama.

PENANAMAN
Penanaman lidah buaya sebaiknya menggunakan bibit yang telah dideder agar tingkat kematiannya rendah. Di samping itu, pemeliharaan tanaman dalam skala kecil (pada tempat pendederan)  jauh lebih mudah dibanding pemeliharaan tanaman yang sudah ditanam di lapang. Oleh karena itu, ditempat pendederan tanaman dipelihara secara lebih intensif guna mendapatkan tanaman yang sehat, subur, dam terseleksi, sehingga tanaman seragam.
Tanaman lidah buaya dapat ditanam pada setiap musim, tetapi penanaman yang baik dapat dilakukan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau. Pada musim hujan kendalanya adalah tanaman lebih mudah terserang jamur, sedangkan pada musim kering tanaman terancam mati karena kekeringan. Saat penanaman sebaiknya dipilih pada pagi atau sore hari, saat sinar matahari tidak terlalu terik untuk mengurangi kelayuan.
Bibit tanaman dilepas dari polybag dengan sangat hati-hati agar tidak terlalu banyak akar yang putus atau tanah tempat pendederan rontok. Penanaman dilakukan dengan membuat lubang pada bedengan kira-kira sedalam mata cangkul. Selanjutnya, bibit ditanamkan ke dalam lubang dan tanah di sekitar perakaran dipadatkan agar tanah dederan menyatu dengan tanah bedengan. Beri perlindungan secara individual pada setiap tanaman yang baru ditanam dengan gedebok pisang atau daun-daun an agar tanaman muda terhindar dari kelayuan. Di samping itu, apabila tidak ada hujan, tanaman baru harus disiram sampai tanaman kuat. Pada waktu itu tanaman dapat dipupuk dengan dosis rendah, untuk tiap hektar diberikan 100 kg Urea, 100 kg TSP, dan 50 kg KCI.

PEMELIHARAAN
Penyulaman
Sesudah penanaman, yang perlu untuk diperhatikan adalah menjaga kelembapan agar tanaman tidak kekeringan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyiraman secara kontinu, baik pagi maupun sore hari bila tidak hujan. Penyiraman ini dilakukan sampai akar tanaman tumbuh, sehingga mampu memenuhi kebutuhan airnya.
Selama dalam pemeliharaan ini apabila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak baik harus segera diganti dengan tanaman baru.  Agar tanaman baru tersebut dapat mengejar pertumbuhan tanaman lainnya maka penyulaman harus dilakukan 1 – 3 minggu setelah tanam. Bibit  yang digunakan untuk menyulam berasal dari bibit pendederan yang sengaja ditinggalkan untuk penyuluman.

Pemupukan
Sebenarnya belum ada rekomendasi yang tepat untuk pemupukan tanaman lidah buaya. Namun dalam pertumbuhannya diperlukan unsur-unsur nitrogen dan kalium untuk pembentukan zat hijau daun, pertumbuhan vegetatif tanaman, dan pembentukan jaringan tanaman. Adapun pemupukan fosfat, diharapkan dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar. Menurut pengalaman petani, dosis pemupukan dapat mengikuti petunjuk berikut. 
Untuk memperbaiki struktur tanah, selain diberikan pupuk buatan juga perlu diberikan pupuk organik, seperti kompos dan pupuk kandang berupa kotoran sapi, kambing, dan ternak unggas. Menurut pengalaman para petani, ternyata pupuk kotoran sapi lebih baik, karena banyak mengandung unsur hara, terutama nitrogen dan unsur mikro lainnya. Di samping itu, kotoran sapi yang telah matang tidak merangsang pertumbuhan jamur. Sementara itu, pupuk kotoran unggas sering mengundang penyakit yang bersal jamur.

Pembumbunan
Pada umur 3 bulan  tanaman sudah mulai tumbuh subur. Agar tanaman sudah mulai menjalar ke sekitar bedengan. Untuk mendekatkan makanan, menggemburkan tanah, dan memperkokoh berdirinya tanaman, tanaman perlu dibumbun dengan cara menaikkan tanah di sekitarnya dan dipadatkan ke sekitar batang tanaman.
Pembumbunan biasanya juga diiringi dengan kegiatan pengendalian gulma dan pemupukan susulan. Pada waktu pembumbunan ini sekaligus juga dilaksanakan penyobekan tanaman yang sudah menghasilkan anakan. Tanaman yang memiliki terlalu banyak anak pertumbuhannya akan terhambat. Di samping itu, penyobekan juga berguna untuk memperoleh anakan yang akan digunakan sebagai bibit.

Penyobekan
Pada umur 5 – 6 bulan tanaman sudah mulai mengeluarkan anakan dari batang yang terpendam dalam tanah. Anakan ini perlu disobek atau dipisahkan untuk dijadikan bibit. Selain itu, bila dibiarkan anakan ini akan banyak tumbuh di sekitar induknya sehingga menjadi beban bagi induknya. Pertumbuhan induk menjadi terhambat, dan tanaman kerdil.
Bila akan dijadikan bibit, saat inilah kita mulai memisahkan anakan untuk kemudian dideder. Penyobekan atau pemisahaan anakan dari anakan induk ini dilakukan dengan hati-hati menggunakan pisau yang tajam.

Pengendalian Gulma
Tanaman lidah buaya tidak memiliki daun yang rimbun sehingga tanah di sekitar pertanaman terbuka. Hal ini mengundang banyak yang tumbuh secara liar, apalagi tanaman akan dipelihara terus sampai beberapa tahun. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian gulma secara kontinu, yaitu pada saat gulma nasih kecil pengendaliannya mudah dan biayanya lebih murah. Pengendaliaan gulma dapat dilakukan dengan dilakukan dengan cara mencabut secara manual dengan tangan, menggunakan alat cangkul atau koret, mendangir sambil membumbun, atau menggunakan bahan kimia herbisida.
Beberapa jenis gulma yang merugikan adalah alang-alang (Imperata cylindrica) , rumput gerinting (Cynodon dactylon), rumput teki (Cyperus rotundus), krokot (Portuaca spp.), kangkung (Ipomorea sp.), dan lain-lain. Di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi, lebih dari 2.000 mm/tahun pertumbuhan gulmanya relatif tinggi. Selain itu, penggunaan pupuk kandang, terutama penggunaan pupuk kandang, terutama kotoran sapi, juga sering menjadi pembawa bibit rumput. Oleh karena itu, penggunaan pupuk kandang harus menggunakan pupuk yang sudah masak betul (sudah lapuk) sehingga bibit gulma yang ada sudah mati.
Selain menjadi saingan dalam perolehan makanan dan sinar matahari bagi tanaman utama, gulma juga sering menjadi tanaman inang bagi hama dan penyakit.

PANEN
Tanaman lidah buaya dimanfaatkan getah lendirnya atau gel daun yang telah mengental. Oleh karena itu, pemungutan hasil dilakukan setelah produksi gelnya tinggi. Hal ini ditandai dengan ukuran pelepah daun yang besar, ketebalan pelepah daun sudah maksimal, dan daun berwarna hijau tetapi tidak tua. Bila daun telah tua kandungan gelnya berkurang.
http://budidayalidahbuaya1.files.wordpress.com/2012/04/20090418_045937_z-lidah-buaya-ant.jpg?w=300&h=236
Panen pertama dapat dilakukan setelah tanaman  berumur 8 – 10 bulan, dan ketebalan daun kira-kira 40 cm – 50 cm, dengan berat 300 g – 600 g. Hal ini tergantung kepada kesuburan tanaman dan media penanamnya. Apabila ditanam dalam pot, berat daun ± hanya 1 ons – 2 ons per batang. Panen dapat dilakukan secara berkala 1 – 2 minggu sekali dengan cara memotong pangkal daun yang dimulai dari pelepah daun bagian bawah, karena daun bagian bawah ini bila dibiarkan terlalu lama akan meyentuh tanah sehingga membusuk.
Tiap pelepah dapat mencapai 300 g – 600 g berat basah, sedangkan populasi tanaman per ha dapat mencapai 40.000 – 60.000 tanaman. Dengan demikian, 1 ha tanah dapat menghasilkan 12 ton – 36 ton berat basah. Di Pontianak harga lidah buaya yang masih bekulit Rp 300,00 per kg dan biasanya dijual dalam bentuk cendol lidah buaya untuk konsumsi. Lidah buaya yang sudah dikupas dan berupa gel siap dikonsumsi dijual dengan harga Rp 1.200,000 per kg

 

Manfaat Dan Cara Pengolahan Tanaman Lidah Buaya

http://budidayalidahbuaya1.files.wordpress.com/2012/04/1330422220_323752907_1-gambar-jual-lidah-buaya-minuman-kesehatan.jpg?w=300&h=300
Lidah buaya, siapa yang tidak kenal jenis tanaman satu ini. Lendir atau getah yang dihasilkan dari daun lidah buaya umum digunakan sebagai penyubur rambut. Dalam dunia industri, lidah buaya banyak dimanfaatkan untuk kosmetik, farmasi, kimia, makanan dan minuman. Daging lidah buaya mengandung mineral, asam amino, serat, enzim-enzim, vitamin,serta berbagai zat bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan. Lidah buaya ini mempunyai potensi tinggi sebagai makanan kesehatan, sehingga banyak digunakan untuk bahan baku utama untuk minuman kesehatan dan kecantikan. Didukung dengan budaya masyarakat untuk kembali menggunakan bahan dan obat-obatan yang alami, minuman lidah buaya mempunyai prospek yang bagus untuk dijadikan sebuah peluang usaha.
Terdapat 300 jenis lidah buaya di dunia, namun demikian yang bisa dijadikan bahan pangan hanya dari jenis Aloe Barbodensis atau yang dikenal dengan Aloe Vera. Lidah buaya tergolong tanaman hortikultura. Kandungan unsur utama dalam lidah buaya adalah alonin, emodin, resin, gum dan minyak atsiri. Kandungan alonin pada gel atau lendir lidah buaya jenis Aloe vera adalah 18-25%. Alonin mempunyai rasa getir, mengandung antibiotik dan bersifat antiseptik.
Dari tanaman lidah buaya dapat diproses lebih lanjut menjadi berbagai macam produk. Produk lain disamping sebagai olahan makanan dan minuman kesehatan berupa :
·         Gel pekatan atau konsentrat lidah buaya,
·         Bubuk /tepung lidah buaya
Tanaman lidah buaya memiliki banyak manfaat antara lain :
1.      pemanfaatan yang sudah sangat familiar di masyarakat adalah sebagai penyubur rambut.
2.      Lidah buaya juga dimanfaatkan sebagai obat, yaitu obat pencahar serta berfungsi membantu bekerjanya fungsi usus besar.
3.      Lendir /getah daun yang dihasilkan oleh lidah buaya apabila ditambah dengan gula ternyata dapat berkasiat untuk mengobati asma dan sebagai obat batuk
4.      Lidah buaya juga bersifat antiseptik dan dapat merangsang jaringan sel kulit baru, sehingga efektif untuk penyembuhan radang kulit.
5.      yang akan kita bahas lebih jauh yaitu pemanfaatan lidah buaya sebagai minuman kesehatan
Setelah diatas diuraikan bagaimana kasiat yang dimiliki lidah buaya, tidak diragukan lagi bahwa mengkonsumsi lidah buaya sangat bermanfaat bagi tubuh. Secara spesifik berikut akan dibahas bagaimana mengolah lidah buaya menjadi minuman segar yang berkhasiat.

BAHAN
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Minuman Lidah Buaya adalah sebagai berikut : Lidah buaya, Gula pasir, garam dapur, asam sitrat, pewarna makanan (hijau) dan flavor / perasa.

ALAT
Peralatan yag digunakan dalam pembuatan minuman dari lidah buaya ini sangat sederhana yaitu cukup peralatan rumah tangga yang ada di dapur : pisau steinles steel , panci, blender, baskom dan kompor.

CARA PEMBUATAN
Langkah-langkah pembuatan minuman dari lidah buaya adalah sebagai berikut :
1.      Tahap pertama adalah pemilihan daun lidah buaya. Pilih daun yag tebal dan belum terlalu tua, karena daun yang demikian rasa getirnya belum terlalu tajam. Ciri-ciri daun yang belum terlalu tua adalah : warnanya hijau bintik-bintik putin bagian tepi daun berduri lunak dan pucat.
2.      Tahap selanjutnya cuci daun lidah buaya sampai bersih , kupas bagian kulitnya dan ambil dagingnya.
3.      Ke dalam potongan daging lidah buaya tambahkan air dengan perbandingan 4 : 1 antara daging dan air yang digunakan.
4.      Blender campuran daging dan air sampai hancur, kemudaian ekstraknya disaring dengan kain penyaring atau dengan menggunakan saringan plastik.
5.      Tahap selanjutnya, tambahkan gula pasir sejumlah 10-15% , asam sitrat sejumlah 0,1 – 0,2 %, garam dapur sejumlah 0,025 – 0,1%, esence dan pewarna secukupnya.
6.      Kemudian campuran bahan-bahan tersebut dimasak dengan suhu 85-900C selama kurang lebih 20-25 menit.
7.      Dalam keadaan masih panas, masukan larutan tadi kedalam botol-botol yang sudah disterilkan yaitu dengan cara dimasak dalam air mendidih selama kurang lebih 1-2 jam. Banyaknya larutan yang dimasukkan ke dalam botol sebaiknya tidak terlalu penuh , yaitu dengan menyisakan ruang udara sebanyak 1,5-2,5 cm dari bagian atas botol.
8.      Kemudain botol-botol yang berisi larutan lidah buaya tadi dipanaskan dalam air mendidih selama kurang lebih 10-15 menit. Kemudian angkat botol dan tutup dengan segera.
9.      Langkah berikutnya, biarkan botol-botol berisi minuman lidah buaya tersebut dingin pada suhu ruangan.
10. Tahap terakhir dari pembuatan minuman lidah buaya ini adalah pemberian label pada botol
Minuman sari lidah buaya yang sudah dikemas tersebut siap dipasarkan. Selain rasanya menyegarkan, minuman lidah buaya tersebut juga berkhasiat bagi kesehatan. Tentunya hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi kosumen.

Read More

ASAL MULA UJUNG BATU

16:39 |




Pada abad XIV Masehi di salah satu daerah di provinsi Riau yakni Rokan terdapat 2 kerajaan besar, yakni Kerajaan Kunto Darussalam yang berpusat di Kota Lama dan Kerajaan Rokan yang berpusat di Koto Sembahyang Tinggi. Kerajaan ini berkuasa pada wilayah yang dilalui sebuah sungai yang mengalir di sepanjang kerajaan tersebut,yaitu Sungai Rokan.
Sungai Rokan adalah salah satu sungai besar di Riau yang bermuara ke Selat Melaka. Sungai ini merupakan urat nadi perhubungan rakyat antara daerah pantai dan pedalaman. Wilayah Sungai Rokan atau dikenal dengan Rokan Kiri terdapat beberapa kampung,salah satunya adalah Ujungbatu.
Adat istiadat yang berlaku di Ujungbatu berasal dari Andiko 44 yang berkedudukan di Muara Takus, Pucuk Andiko 44 bergelar Datuk Ajo Dibalai.Andiko 44 tidak mengenal Bundo kandung,yang ada adalah Induk Suku, kebawahnya Tuo Si induk sampai dengan pada Induk Umah Suku. Andiko 44 ini mempunyai wilayah sangat luas yaitu dikenal dalam wilayah 5 Kabung Aie yang meliputi :
1.       Kapur Sembilang terdiri dari 4 Andiko
2.       Kampar Kiri terdiri dari 6 Andiko
3.       Kampar Kanan terdiri dari 21 Andiko
4.       Tapung Kiri terdiri dari 5 Andiko
5.       Tapung Kanan terdiri dari 3 Andiko
6.       Pintu Raja terdiri dari 1 Andiko
7.       Rokan terdiri dari 1 Andiko
8.       Tanjung Singingi terdiri dari 2 Andiko
9.       Delapan Koto Sitingkai terdiri dari 1 Andiko
Setiap Andiko dipimpin oleh seorang Datuk yang merupakan Pimpinan Kerapatan Adat,dan untuk daerah Ujung batu di Pimpin oleh Datuk Bendahara. Ujungbatu terdapat 5 Suku yakni Melayu Godang, Caniago, Meniliang Godang, Melayu Tongah dan Meniliang Tongah. Setiap Suku dipimpin oleh 2 Orang Datuk adat yang disebut sebagai Mamak Soko dan Mamak Pisoko. Dalam kehidupan sehari-hari adat istiadat yang dipakai adalah Adat bersandi Syara', Syara' bersandikan Kitabullah; artinya kebiasaan adat diuji dengan kitab,mana yang bertentangan dengan kitab suci umat islam tidak dipakai lagi.
 Di Ujungbatu apabila ada sengketa atau permasalahan harus di selesaikan secara adat bukan secara hukum dulu, yang bermasalah akan di panggil oleh Mamak Otak Botih dengan menghadirkan Tuo Si Induk, apabila tidak selesai maka akan di lanjutkan ke Mamak Pisoko dan menghadirkan Sumondo Tuo,Dubalang dan Induk Suku, tetapi jika tidak dapat diselesaikan maka akan dihadapkan pada Mamak Soko, biasanya kalau sampai pada Mamak Soko perdamaian akan terlaksana. Sehingga apabila kata seorang Mamak Soko seorang pencuri tidak boleh dipenjarakan maka dia akan bebas dan polisi tidak dapat berbuat banyak. tetapi pelaku akan di awasi oleh kerapatan adat. Semenjak perkembangan zaman Khusus untuk kasus Narkoba,Pembunuhan,Kriminal berat akan diselesaikan lewat jalur Hukum tetapi tetap memperhatikan petuah Mamak Soko.
 Ujungbatu memiliki potensi bisnis seperti karet, sawit, Pasir batu, dan walet juga daerah yang sangat strategis sehingga sangat rawan untuk di caplok oleh daerah lain. Selain itu , masyarakat masih memiliki karakter memegang adat yang kuat dan mengikuti apa yang dibilang oleh tokoh adat dan tokoh masyarakat, sehingga apabila tidak ada pendekatan dengan dan restu dari tokoh adat maka membuka bisnis tidak akan pernah maju dan berkembang. Sehingga para pengusaha yang memiliki usaha di Ujungbatu mencari Mamak angkat dan beli suku. Semakin tinggi posisi Mamak angkatnya maka mereka akan disegani oleh masyarakat dengan demikian perkembangan usaha mereka jadi lebih meningkat tinggi.
 Selain itu oleh masyarakat Ujungbatu terdapat suku yang keberadaan tidak kasat mata atau tidak nampak oleh manusia biasa yakni Suku Bunian. Hanya orang – orang tertentu yang bisa berkomunikasi dengan Suku Bunian, bentuk dan rupanya katanya sama dengan manusia biasa yang membedakannya hanya Suku Bunian tidak memiliki lekukan (rata) antara bibir atas dengan hidung. Kehidupan Suku Bunian sama seperti manusia beraktifitas dan berkembang. Terlepas kita percaya atau tidak yang penting adalah dimana kaki dipijak disitu langit di junjung.
Pergi berenang di sungai Rokan
Ketika sore naik ke perahu
walau tinggal di kota Pekan
Rejeki dapat di Ujungbatu

 

Air Terjun Aek Martua | Wisata Rokan Hulu

Air Terjun Aek Martua ini adalah salah satu wisata unggulan di kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Provinsi Riau Indonesia. Aek Martua adalah nama sebuah sungai di wilayah Desa Tangun Kecamatan Bangun Purba dan Air Terjun Aek Martua adalah air terjun yang tertinggi dari sekian banyak air terjun yang terdapat disepanjang hulu sungai. Bukit Simalombu inilah nama kawasan ini yang merupakan hutan alam berstatus Taman Hutan Raya dengan potensi pohon ratusan kubik. Nama Aek Martua berasal dari bahasa suku Mandailing yang artinya adalah Air Bertuah, dimana mayoritas penduduk desa ini adalah suku mandailing.
Lokasi air terjun Aek Martua berada di kawasan pegunungan Bukit Barisan dalam kabupaten Rokan Hulu. Air Terjun Aek Martua ini memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri karena memiliki tiga tingkat. Aek Mertua ini memiliki panorama alam yang mempesona. Airnya yang jernih bak kemasan air mineral, sungguh membuat sedap mata memandang. Di samping menjadi obyek wisata, sekarang Aek Martua ini, telah pula menjadi objek penelitian oleh sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Pekanbaru.
Untuk mengunjungi Air Terjun Aek Martua ini anda dari Pekanbaru – Pasir Pengaraian ( naik angkutan L300 atau Superban Rp. 35.000) turun di Simpang Tangun. Kemudian naik angkutan menuju Tangun dengan jenis Oplet dan Omprengan Rp. 5000. Di pintu masuk objek wisata ini mulai melewati jembatan gantung dan jalan setapak di perkebunan masyarakat sejauh kurang lebih 3, 5 Km, kemudian melewati kawasan hutan lindung sejauh kurang lebih 3 Km. terdapat tanjakan dan turunan yang lumayan curam serta pemandangan indah. Panorama hutan yang masih alami akan menemani kita menuju Air Terjun Aek Martua ini.
Read More